Bukan Buatan Eropa! Ternyata Menara Jam Gadang Bukittinggi Dirancang oleh Putra Asli Minang, Cuma Pakai Putih Telur Tanpa Semen.

- Penulis

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Buatan Eropa! Ternyata Menara Jam Gadang Bukittinggi Dirancang oleh Putra Asli Minang, Cuma Pakai Putih Telur Tanpa Semen.

 

 

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, berswafoto di depan kemegahan Jam Gadang pasti menjadi agenda yang wajib. Menara jam setinggi 26 meter ini tidak hanya menjadi ikon pariwisata, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa sejak zaman kolonial Belanda.

 

 

Namun, ada sebuah kekeliruan besar yang selama ini beredar di tengah masyarakat. Banyak yang mengira bahwa menara semegah dan sekokoh itu pasti dirancang oleh arsitek-arsitek andal yang didatangkan langsung dari Eropa.

 

 

Faktanya? Sejarah mencatat hal yang sebaliknya! Otak dan arsitek utama di balik berdirinya menara Jam Gadang adalah seorang putra asli Minangkabau bernama Yazid Rajo Mangkuto.

 

 

Kecerdasan Lokal yang Mengalahkan Teknologi Barat
Kisah ini bermula pada tahun 1926, ketika Sekretaris Kota (Controleur) Bukittinggi, Rookmaaker, menerima hadiah berupa mesin jam raksasa yang sangat mewah dari Ratu Belanda. Untuk membangun menara yang akan menampung jam tersebut, pemerintah kolonial justru memercayakan proyek prestisius ini kepada talenta lokal.

 

 

Yazid Rajo Mangkuto, yang dikenal sebagai seorang Tukang Tuo (pakar arsitektur tradisional) sekaligus tokoh adat yang disegani, ditunjuk sebagai arsitek utamanya. Bersama sahabatnya, Sutan Gigi Ameh, Yazid mulai merancang cetak biru menara yang kelak akan mendunia ini.

 

 

Yang membuat para pakar teknik sipil modern tercengang adalah material yang digunakan dalam proses pembangunannya. Pada tahun 1926, teknologi semen modern belum sekaya sekarang.

 

 

Menara Jam Gadang dibangun secara tradisional dengan mengandalkan campuran kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekatnya! Ya, Anda tidak salah baca. Tanpa menggunakan besi penyangga dan tanpa semen modern, Yazid berhasil menciptakan formula adukan yang luar biasa magis.

Baca Juga:  Kemanunggalan TNI-Rakyat: Rindam XV/Pattimura Gelar Karya Bakti Bersihkan "Bumi Para Raja"*

 

 

Rahasia Konstruksi Tanpa Semen: Terbukti Ampuh Jinakkan Gempa
Menggunakan putih telur sebagai bahan bangunan terdengar mustahil bagi orang awam. Namun, di tangan dingin Yazid Rajo Mangkuto, material organik ini justru menjadi kunci kekuatan Jam Gadang.

 

 

Campuran kapur dan putih telur menciptakan daya rekat yang luar biasa kuat sekaligus menghasilkan struktur bangunan yang elastis. Karena dibangun di atas tanah Sumatra yang rawan gempa, bangunan yang kaku justru akan sangat mudah roboh.

 

 

Formula elastis rancangan Yazid ini terbukti ampuh. Sejak berdiri tahun 1926 hingga era modern sekarang, Jam Gadang telah dihantam gelombang gempa besar berkali-kali. Ketika bangunan modern di sekitarnya retak dan runtuh, Jam Gadang tetap berdiri tegak, anggun, dan tanpa kerusakan berarti. Ini adalah bukti sahih bahwa sains arsitektur tradisional Nusantara jauh melampaui masanya.

 

 

Pendidikan Adat yang Menghasilkan Mahakarya
Jika Anda bertanya di universitas Eropa mana Yazid belajar menggambar teknik, jawabannya adalah: Tidak di mana-mana. Kejeniusan Yazid Rajo Mangkuto lahir dari sistem pendidikan Surau dan tradisi magang adat Minangkabau.

 

 

Sejak muda, ia menempa diri memahami mekanika bangunan, membaca arah angin, hingga menguasai detail ukiran langsung dari alam dan para leluhur. Ditambah dengan pendidikan dasar berhitung di sekolah rakyat (Inlandsche School), Yazid berhasil mengawinkan logika matematika formal dengan kearifan lokal yang mendalam.

 

 

Kini, setiap kali lonceng Jam Gadang berdentang menggetarkan sudut Kota Bukittinggi, itu adalah bunyi pembuktian harga diri bangsa. Yazid Rajo Mangkuto telah menunjukkan kepada dunia bahwa anak negeri memiliki kecerdasan, ketangguhan, dan kemandirian yang tidak kalah—bahkan bisa melampaui—bangsa Barat.

 

Editor : Eka Saputra

Sumber Berita: Wikipedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel ayoviralkan.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolres Pasaman Barat Perkuat Kedekatan gelar Gotong Royong Bersama Masyarakat di Rumah Ibadah.
Kapolres Pasaman Barat Menjalankan Jum’at Berkah Keliling, Rangkul Elemen Masyarakat Bersinergi Jaga Kamtibmas.
Kapolres Pasbar Bersama Bidokkes, Ekhumasi Pembongkaran Makam Bayi 8 Bulan Dugaan Kelalaian Medis Dalam Penanganan Korban di RSI Ibnu Sina.
Kapolres Pasbar Bertemu Pengurus PWI, Bahas Penguatan Sinergi Dan Kontrol Sosial.
Kapolres Pasaman Barat”AKBP Agung Tribawanto” Serap Aspirasi dan Masukan Warga Di Nagari Lingkuang Aua.
Belum Diverifikasi, LPK HYDUP Perkasa Jaya Disebut Sudah Membuka Kegiatan Pembelajaran
Kapolres Pasbar dan Bupati Pasaman Barat Bagikan Masker Gratis Guna Cegah Kabut Asap di SMAN 1 Pasaman Barat.
*Tim Gabungan Kapolres Pasbar Berantas Bandar Narkoba dan Kurir Sabu-Sabu di Kinali Pasaman Barat*
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Kapolres Pasaman Barat Perkuat Kedekatan gelar Gotong Royong Bersama Masyarakat di Rumah Ibadah.

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:16 WIB

Kapolres Pasaman Barat Menjalankan Jum’at Berkah Keliling, Rangkul Elemen Masyarakat Bersinergi Jaga Kamtibmas.

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Kapolres Pasbar Bersama Bidokkes, Ekhumasi Pembongkaran Makam Bayi 8 Bulan Dugaan Kelalaian Medis Dalam Penanganan Korban di RSI Ibnu Sina.

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:18 WIB

Kapolres Pasbar Bertemu Pengurus PWI, Bahas Penguatan Sinergi Dan Kontrol Sosial.

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Kapolres Pasaman Barat”AKBP Agung Tribawanto” Serap Aspirasi dan Masukan Warga Di Nagari Lingkuang Aua.

Berita Terbaru