Hasan Nasbi, Seorang Pembaca Peta Politik Yang Jitu dari Bukittinggi.Etnis Minang tak pernah kekurangan kader bangsa. Bahkan dari masa-kemasa selalu tampil dalam pusaran politik kebangsaan dan ketatanegaraan. Bahkan Gawaman Fauzi menyebut pernah pada masa SBY komposisi kabinet diisi Minang 27 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu yang hari ini dekat dengan lingkar istana adalah anak muda ini. Pernah setahun jadi Kepala Komunikasi Kepresidenan, lalu dipecat namun kini namanya masuk lagi pada jabatan setara, yakni Stafsus Presiden bidang komunikasi.
Nama Hasan Nasbi belakangan kian akrab di telinga publik. Sosok kelahiran Bukittinggi ini bergerak lincah di panggung komunikasi politik nasional—sebuah arena yang menuntut kecepatan berpikir sekaligus ketajaman membaca situasi. Dari balik layar hingga tampil di depan publik, ia menjelma menjadi salah satu figur yang ikut mewarnai dinamika kekuasaan di Indonesia.
Lahir pada 11 Oktober 1979 di Bukittinggi, Hasan tumbuh dalam kultur Minangkabau yang lekat dengan tradisi berpikir kritis dan berdialog. Lingkungan sosial itu membentuk fondasi awal cara pandangnya terhadap politik: bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan seni mengelola persepsi dan komunikasi.
Perjalanan intelektualnya mengarah ke Universitas Indonesia, salah satu kampus yang kerap melahirkan tokoh-tokoh penting di bidang kebijakan publik. Di sana, ia mengasah nalar analitis sekaligus memperluas jejaring—dua modal penting bagi kariernya di kemudian hari.
Karier Hasan tidak dibangun dalam semalam. Ia meniti jalur sebagai konsultan politik, sebuah profesi yang menuntut kejelian membaca peta kekuatan, opini publik, serta arah angin politik. Dalam dunia ini, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh narasi yang mampu menggugah.
Namanya semakin mencuat ketika terlibat dalam tim komunikasi politik nasional. Ia menjadi salah satu juru bicara dalam barisan pemenangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada kontestasi Pemilihan umum Presiden Indonesia 2024. Perannya di sana memperlihatkan kemampuannya dalam meramu pesan politik yang efektif dan mudah dicerna publik.
Puncak kariernya di lingkar kekuasaan dimulai saat ia dipercaya menjabat Kepala Komunikasi Kepresidenan. Posisi ini menempatkannya sebagai penghubung strategis antara pemerintah dan masyarakat. Dalam era banjir informasi, jabatan tersebut bukan sekadar administratif, melainkan medan tempur opini.
Perjalanan itu berlanjut ketika ia kemudian diangkat menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi pada era pemerintahan Prabowo Subianto. Penunjukan ini menegaskan bahwa keahliannya dianggap relevan dalam menjaga stabilitas komunikasi politik di tingkat nasional.
Namun, seperti banyak tokoh publik lainnya, langkah Hasan tidak selalu mulus. Ia sempat menjadi sorotan terkait pernyataannya atas kasus yang menimpa jurnalis Francisca Christy Rosana dari Tempo Inti Media. Respons yang ia lontarkan menuai kritik karena dinilai kurang empatik, memicu perdebatan tentang sensitivitas pejabat publik dalam merespons isu serius.
Kritik juga datang dari berbagai kalangan, termasuk figur publik seperti Susi Pudjiastuti. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa komunikasi politik bukan hanya soal pesan, tetapi juga rasa dan konteks.
Di luar kontroversi, Hasan tetap dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan membaca arah opini publik dengan cepat. Ia termasuk generasi baru konsultan politik yang menggabungkan pendekatan konvensional dengan strategi komunikasi modern berbasis media sosial.
Kehadirannya di lingkar kekuasaan menunjukkan perubahan wajah komunikasi pemerintah. Jika dulu komunikasi cenderung satu arah, kini pendekatan yang lebih adaptif dan responsif menjadi tuntutan. Hasan berada di titik pergeseran itu—sebagai aktor sekaligus pengamat.
Pada akhirnya, perjalanan Hasan Nasbi adalah potret tentang bagaimana komunikasi menjadi elemen kunci dalam politik modern. Di tengah arus informasi yang deras, ia berdiri sebagai salah satu figur yang mencoba mengendalikan narasi—meski tak jarang harus berhadapan dengan gelombang kritik yang sama. kuatnya.
Editor : Eka Saputra
Sumber Berita: Facebook.com.
















